Senin, 27 Sep 2021
  • SMA Negeri 2 Plus Panyabungan "Cerdas, Berkarakter, Berprestasi "

Polahi Tetaplah Pribumi

Karya: Murni Khafifah

Melangkah menembus belantara, hidup berdampingan dengan berbagai ancaman. Rasa takutnya hanya pada manusia semata. Indonesia memanglah kaya akan budaya, keberagaman terlihat tidak ada ujungnya begitu pun dengan mereka rakyat yang memilih untuk menetap di bagian bumi tanpa era. Polahi, suku asli Indonesia yang bermukim di pegunungan Boliyohuto provinsi Gorontalo, saling berpencar dan hidup nomaden setiap kali ada anggota keluarga yang meninggal dunia. Hal ini beralasan untuk menghindari kutukan, orang-orang Polahi sendiri takut dengan mayat keluarganya. Bermukim di rimba sejak zaman penjajahan Belanda di abad ke-17. Polahi sendiri artinya lari, kejamnya politik membuat mereka mengubah perspektif hidup dan memutuskan untuk melarikan diri jauh dari permukiman, hidup beranak pinak dengan primitif, buta huruf, teknologi, dan edukasi.

Katanya orang-orang Polahi melukai warga yang mencoba mendekati mereka dan merampas barang-barang warga yang datang mencari kayu rotan, sehingga interaksi tidak pernah berhasil baik. Masyarakat Polahi juga di gadang-gadang memiliki ilmu menghilangkan diri. Namun ternyata hal itu tidak benar adanya, orang-orang Polahi hanya melarikan diri dengan sangat cepat saat bertemu penduduk karena sudah hafal jalan di sekitar hutan. Polahi tidak menganut agama yang tercantum dalam kewarganegaraan Republik Indonesia, mereka cenderung mengikuti ajaran tradisional saja, namun uniknya mereka memiliki 3 Tuhan yang di taati. Ketiga Tuhan ini adalah Poluhuta, Lati, dan Lausala. Poluhuta diyakini berwujud suami istri, menguasai tanah, juga hewan. Lati sosok yang menghuni air terjun dan pohon-pohon besar, dan Tuhan terakhir yaitu Lausala, dideskripsikan sebagai sosok haus darah, memiliki mata merah, bisa berpindah dengan cepat dan membawa pedang. Selain itu, Polahi juga tidak mengerti aksara dasar, hari, dan penanggalan. Manusia umumnya makan tiga kali sehari, namun Polahi memiliki kebiasaan makan hanya satu kali dalam sehari ketika pukul 5 sore saat matahari hendak menyelam ke barat. Ibarat pepatah lama ‘mengais dulu baru makan’, Polahi harus berburu bila ingin memakan daging dan mereka juga mengonsumsi umbi-umbian, buah pepaya dan pisang dari hasil bercocok tanam yang mereka lakukan setiap berpindah tempat. Dulu, Polahi tidak menggunakan pakaian layaknya manusia yang punya etika adab dan malu, mereka hanya memakai penutup yang berasal dari daun atau kayu. Mereka hanya menutup daerah vital seadanya bahkan wanita tidak memiliki penutup di tubuh bagian atasnya, anak-anak hingga remaja cenderung tidak berpakaian. Salah satu bukti nyatanya berkisar 10 tahun lalu tim dari suatu perusahaan televisi berhasil mempublikasikan kehidupan Polahi, layaknya berita-berita yang menyebar, warga Polahi yang disorot dan ditayangkan tidak mengenakan pakaian, penayangannya di televisi swasta nasional dan jejak digitalnya masih ada di laman internet Indonesia.

Tak hanya itu, suku Polahi memiliki tradisi yang mengejutkan banyak massa karena sangat tidak mengandung etika kemanusiaan dan dianggap hal nyeleneh, yaitu perkawinan sedarah atau sering disebut inses dalam modernisasi. Anak kawin dengan ibu, anak kawin dengan saudara kandung, juga kawin antara ayah dengan anak menjadi pemisalan dari inses ini. Hal ini dianggap biasa karena menurut para tetua Polahi mereka semua satu rumpun dan didasari dengan suka sama suka jadi tidak ada permasalahan, pun anak-anak yang dilahirkan cenderung normal dan sehat. Keberagaman budaya dan perspektif yang kontras menjadikan Polahi mengasingkan dan terasing sehingga masih banyak masyarakat Gorontalo yang menganggap orang-orang Polahi bukanlah saudara satu daerah dan satu bentala dengan mereka. Namun, seiring berjalannya waktu, tahun ke tahun Polahi mengalami modernisasi dengan tapakan layaknya siput yang amat pelan namun tetap berusaha berkembang. Polahi sudah berani turun dari lereng dan berbaur dengan masyarakat seperti pergi ke pasar, tentunya sudah mengenakan pakaian yang layak seperti manusia umumnya, mereka juga sudah bisa menjual hasil cocok tanam mereka kepada warga sekitar, dan menjadi buruh jasa penambangan emas di sekitar hutan. Ketua adatnya pun sudah beberapa kali menjalin komunikasi dengan kepala warga sekitar. Walaupun belum mengerti tentang globalisasi, setidaknya orang-orang Polahi sudah mengenal mata uang dan juga pemudanya bisa beradaptasi dan menggunakan telepon seluler untuk berkomunikasi.

Pada tahun 2018 tim pembina literasi, yaitu PKBM Hutuo Lestari datang bertugas di daerah kecil di Gorontalo, saat itu 12 orang Polahi yang terdiri dari para ibu dan anak kecil ikut serta dan belajar aksara dasar, mereka cenderung terlihat bingung dan memperhatikan. “Mereka sangat memiliki nilai moral yang tinggi, jadi mereka sangat tepat janji, sangat disiplin, dan tepat waktu liat sendiri tadi mereka menunggu, kemudian mereka to the point, dan kami dapat belajar dari suku Polahi itu sendiri” ujar Paramita Kinanti, salah satu tim pembina literasi. Hal ini masih membuktikan Polahi memang memiliki darah Indonesia yang ramah tamah dengan orang baru. Meskipun tak memiliki agama yang sah dimata hukum dan negara, lima orang Polahi ternyata sudah memiliki eKTP yang aktif sejak 2012. Pada pemilu tahun 2019, Polahi memanifestasikan hak suaranya untuk memilih pemimpin negara menjadi nyata. Dengan bantuan Relawan Demokrasi mereka memecah jalan demi hak suara Polahi, mendaki gunung, melewati lembah, dan tujuh sungai. Tahun itu merupakan pemilu pertama suku Polahi, sesuai dengan pengakuan Raja Babuta, raja Polahi saat itu. Pemerintah setempat juga sudah pernah memfasilitasi Polahi dengan menyediakan rumah di dekat permukiman warga, namun Polahi tetap menolaknya dengan alibi di lereng jauh lebih damai, asri, dan tentunya tidak panas sehingga lebih subur bercocok tanam.

Tahun ke tahun, banyak jaringan yang berusaha menyentuh sensitivitas Polahi, konsep pemberdayaan sedang digeluti perlahan. Seperti akhir-akhir ini, mahasiswa Gorontalo ikut serta mengedukasi Polahi tentang agroforestri, serta Disdik mulai memperkenalkan kebudayaan Polahi seperti tariannya dalam festival negeri. Banyaknya keragaman bukan berarti menjadi tak aman, koleksi budaya tak seharusnya menjadi ajang diskriminasi. Aku dan kita harus lebih membenahi diri, membuka mata bahwa negeri bukan hanya untuk mereka yang mengerti globalisasi. Polahi murni pastinya pribumi. Melihat Polahi yang sedikit lebih berani menunjukkan indikasi bahwasanya perubahan dan modernisasi dapat terjadi. Pemerintah harus teliti dalam mengambil jalan demi kemerdekaan globalisasi Polahi, pelan-pelan tapi pasti masyarakat akan menjadi saksi jayanya Polahi.

Post Terkait

Reset Akun Belajar
12 Mei 2021

Reset Akun Belajar

0 Komentar

KELUAR